T he
 
samsarik.com
samsarikers official website
"Orang-orang yang selalu hanya mencari emas di luar sana, mereka tidak akan pernah mendapatkannya. Karena emas sebenar-benarnya adalah diri mereka sendiri!" -samsara-  
 

 

"Setiap kali aku bepergian ke suatu tempat yang baru,
melihat orang-orang baru, mengalami pengalaman-pengalaman baru,
apa yang sebenarnya aku dapatkan? Cara pandang yang baru, pemahaman yang baru, diri yang baru! Diri yang baru,
selalu, selalu, dan selalu, hanya itu!”
-Pande Putu Setiawan

Pande Putu Setiawan lahir di Ubud - Bali, 8 Maret 1977. Menjadi pebisnis merupakan cita-citanya, namun lahir di tengah keluarga seniman ternyata tidak bisa menjauhkannya dari kegiatan seni. Menyelesaikan studi S1 di STT Telkom Bandung, kemudian melanjutkan S2 di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang memberinya kesempatan untuk melakukan pertukaran mahasiswa ke University of Victoria, Canada. Pernah menjadi kandidat beasiswa Ph.D in Tourism Industry oleh WTO.

Bahwasanya pada akhirnya pengalaman hidup adalah guru paling hakiki, kejam namun juga baik. Ia adalah Sang Alkemi sejati yang menempa batangan-batangan besi menjadi emas. Setelah mendapatkan kesempatan menjejakkan kaki melihat 'kehidupan' di beberapa tempat di belahan dunia, aku tersadar bahwasanya bumi ini terlalu indah untuk dirusak. Setiap matahari terbit di pagi hari adalah hadiah Sang Khalik buat kita, hadiah apa yang pernah kita berikan untuknya?

Saat ini Pande lebih memilih mengabdikan dirinya dengan mendirikan Rumah Baca gratis di sebuah kampung sangat terpencil, di Bali.

 
"Ketika Monyet Membuat Risalah!"
Oleh: Mikke Susanto (kurator seni rupa)

lukisan: Wayan Asta Ubud - Bali. Leksikon pelukis Bali 200 tahun Agus Dermawan T.

Sembari melakukan perjalanan ia juga sering mengukir tentang apa saja. Di jalan ia tak pernah lepas dari objek. Perjalanannya tidak saja menghasilkan tiket pesawat tetapi juga sketsa kerumitan hidup. Di jalan ia tak pernah lepas dari sabda para pengemis dan figur-figur yang kalah. Ada kalanya perjalanan di sebuah kota, tak juga lepas ia dari nyanyian para pengamen. Oleh karena itu ia tak sempat imajinasinya ditinggalkan diam.

Teks-teks yang dilantunkannya memang sebuah tulisan yang memakai tanda-tanda umum. Masalahnya, tidak setiap orang mampu melahirkan sketsa atau tulisan yang baik dengan bahan yang biasa dilihat orang awam. Ada satu geliat kreatif yang khas, yang secara khusus dipakai oleh penulis muda ini untuk mendendangkan seruan hidup kita para manusia.

Pernah ia menuliskan perdebatannya dengan setan, tanpa mengusik Tuhan dan para malaikat, hanya untuk menghindar dinginnya malam. Pernah pula ia menemukan kebodohannya, karena tak peduli dengan syair pengamen kecil di Malioboro. Sekarang Anda, pernahkah menyadari bahwa setiap selesai makan atau minum di sebuah warung atau restoran sebuah gelas pun akhirnya memberi kita pelajaran berharga?

Kumpulan tulisan ini menyinggung kreativitas dengan mengusung lanskap, religi dan benda-benda budaya populer. Dari peta, pohon, Tuhan, cinta, laut, negara sampai monyet menjadi aktor penting dalam risalah-risalahnya. Realitas yang lewat, ditangkapnya dengan kemampuan dan kesederhaaan serta kerelaan secara total. Karena itulah intuisinya menjadi luar biasa. Putu memang seorang realis asketik. Membaca setiap risalahnya, berarti menyadari sebuah nilai yang menghampiri kita.

 
"kamu tidak sendirian di hutan samsarik ini!"